Tragedi Manusia Batu Oleh : Burhanuddin Hamal (Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kec.Tinambung Polewali Mandar )

Menyimak kisah Malin Kundang (legenda cerita lokal dari tanah Minang), bukan tak mungkin alur kasusnya bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan bagi siapa saja. Yang pasti, tema ceritanya menyorot sosok seorang generasi yang di masa mudanya dikenal lugu, penyayang dan sangat santun pada keberadaan orang tuanya.

Perlahan kemudian, hubungan itu ahirnya terganggu dan retak oleh “ketidak-berdayaan” sang anak yang seharusnya tahu merawat batasan keseimbangan antara martabat orang tuanya dengan pranata rumah tangganya sendiri. Lebih dari itu, kemapanan hidup yang sudah dimiliki Malin bukan saja membuatnya hanyut dalam keangkuhan sosial tetapi juga makin membangun jurang pemisah antara dirinya dengan sosok ibu (orang tua) yang telah melahirkannya dalam buaian cinta yang tak bertepi.

Bukankah memang kerap terjadi, gara-gara ketidak-kondusifan mental pasangan atau dengan makin “bergengsinya” level kehidupan membuat tak sedikit orang tua ahirnya harus mengalah bahkan kehilangan hak cinta (perhatian yang semestinya) dari keberadaan anak-anaknya ?
Terlanjur begitu, sang anak pun melakukan trik-trik tertentu demi mengamankan reputasinya sebagai “pemimpin gagal” yang tak mampu menata otonomi rumah tangganya sendiri.

Ilustrasi di atas bisa jadi merupakan replika perwajahan legenda “manusia batu” di abad moderen ini. Muatan analoginya patut direnungkan agar menjadi pembelajaran berharga bagi dinamika hidup para generasi ke masa depan.

Bayangkan, sosok-sosok Malin yang dulunya dikenal idealis, agamis dan tegas pendirian itu, ternyata ahirnya tak mampu berkutik dihadapan kebodohannya sendiri hingga martabatnya sebagai suami pun runtuh dan berahir di TIANG GANTUNG DILEMA. Boleh jadi sengaja diam atau pura-pura tak sadarkah dia dalam “keterpasungan” ini ?

Pesan Nabi yang menyebut “Surga berada di telapak kaki seorang ibu” dan “ridha Allah bergantung pada ridha kedua orang tua” mestinya menjadi sugesti positif bagi setiap generasi agar makin tahu menetralisir porsi dan takaran-takaran keseimbangan cinta terhadap orang-orang terdekat. Secara khusus, mencintai orang tua sendiri merupakan kewajiban yang tak bisa ditawar oleh siapapun, dalam kondisi apapun bahkan sampai kapanpun. Justru kegagalan melakukan pengabdian suci ini telah membuat sosok Malin ahirnya “karam” dalam kutukannya menjadi batu. Bukankah ini sebuah pembelajaran pasti bahwa kedurhakaan seorang anak terhadap kedua orang tua (apapun jenis kasus dan levelnya) selamanya tidak akan pernah melahirkan BERKAH-BERKAH KEHIDUPAN dalam makna yang luas ?

Di sisi lain, Salman Al-Farisi patut menjadi figur teladan bagi para generasi sepanjang zaman. Berlatar dari keluarga miskin, sementara ibunya ingin naik haji namun untuk berjalan saja ibunya tidak mampu. Sebagai bentuk kecintaan yang mendalam terhadap sosok yang sangat dikaguminya itu, ia rela mengantar ibunya naik haji dengan cara menggendongnya selama berhari-hari. Melintasi teriknya matahari dan dinginnya gurun malam ke Mekah membuat hampir seluruh kulit punggung sahabat yang saleh ini terkelupas. Namun, pengabdian yang teramat tulus dari seorang anak untuk ibunya inilah pada ahirnya menjadikan sahabat yang satu ini paling dicintai Allah selain Rasulullah Muhammad SAW…..Subhanallah.

Semoga kita semua mendapatkan bimbingan-Nya agar bisa mengikuti jejak kesalehan Salman Al-Farisi dan jauh dari percontohan reputasi buruknya legenda Malin… (sinergitas QS. Al-Isra’: 23-24).

Ushikum wanafsi bitaqwallah, Wallahu a’lam bisshawab.

0

Post Komentar

Gulir ke Atas