Mengevaluasi Perintah Dan Larangan Tuhan Oleh: Ilham Sopu,SS
Salah satu pesan yang wajib disampaikan oleh seorang khatib ketika menyampaikan khotbah adalah pesan ketaqwaan. Dalam rukun khotbah setidaknya ada lima yang disampaikan oleh khatib diantaranya, ucapan Alhamdulillah, membaca shalawat kepada Nabi, wasiat taqwa, membaca Alquran dan Doa. Taqwa menjadi titik sentral pembahasan seorang khatib.
Pesan ketaqwaan adalah pesan keagamaan yang disampaikan oleh khatib kepada jamaah atau umat, untuk memperbaharui atau meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada seluruh jamaah shalat Jum’at.
Pesan ketaqwaan adalah pesan Tuhan yang diamanatkan kepada pendahulu dan generasi mendatang, sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an “Sungguh,kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, agar bertaqwa kepada Tuhan (QS.4.131).
Jadi pesan ketaqwaan adalah pesan universal, pesan untuk seluruh manusia. Inilah pesan inti ajaran agama yang telah diturunkan Tuhan kepada umat manusia.
Ketika Adam akan diturunkan ke langit dunia, Tuhan sudah memberikan pesan taqwa kepadanya. Karena inti ketaqwaan adalah perintah dan larangan. Pesan Tuhan kepada Adam ketika berada di surga adalah disuruh menikmati apa yang ada di dalam surga sepuasnya, ini adalah bentuk perintah Tuhan, sekaligus juga ada larangan, yaitu larangan untuk tidak mendekati pohon yang telah ditunjuk oleh Tuhan, dan ini adalah larangan dari Tuhan. Drama Adam dan istrinya di surga, adalah visualisasi ajaran ketaqwaan dan merupakan pembelajaran yang sangat berharga untuk umat-umat yang datang kemudian.
Dalam salah satu bukunya, Prof Quraish Shihab memberikan analisa secara kebahasaan, ketika Tuhan memerintahkan Adam untuk menikmati apa yang ada di surga, disitu Al-Qur’an menggunakan kata “Ini”, yang berarti dekat. Artinya bahwa menjalankan perintah agama berarti mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan ketika Adam dan istrinya melanggar perintah Tuhan, Al-Qur’an menggunakan kata “Itu” kepada Adam yang berarti jauh. Melanggar perintah Tuhan berarti kita jauh dari Tuhan. Prosesi Adam dan istrinya adalah bentuk pembelajaran kepada umat manusia secara keseluruhan tentang visualisasi ajaran ketaqwaan.
Ada yang menarik jika kita menganalisa keberadaan Adam dan istrinya di surga, ketika menerima perintah dan larangan, tidak ada keseimbangan antara perintah dan larangan, ketika Tuhan memerintah Adam, Al-Qur’an menggunakan kata nikmatilah atau makanlah apa saja yang kamu berdua sukai, diberikan kebebasan dalam perintah Tuhan, tetapi ketika perintah untuk melarang, itu cuma satu saja, dalam analisa kelogikaan perbandingan antara perintah dan larangan, kalau kita mengacu ke peristiwa Adam di surga, itu lebih banyak perintah daripada larangan.
Bagaimanapun banyaknya nikmat dalam perintah Tuhan, godaan untuk melanggar larangannya, sangat besar pengaruhnya. Peristiwa surga dan Nabi Adam adalah pelajaran yang sangat besar dalam mengimplementasikan ketaqwaan dalam diri manusia. Dan perintah Tuhan seperti surga Adam, itu akan berlangsung dalam kehidupan manusia di muka bumi ini. Perintah Tuhan kepada Adam, itu juga akan berlaku untuk seluruh manusia.
Eksistensi dunia ini adalah untuk kesejahteraan manusia, manusia dipersilahkan untuk menikmatinya dan sekaligus perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di kemudian hari.
Tuhan telah menawarkan amanah ini ke beberapa makhluknya tetapi semuanya menolak karena tidak akan mampu mengembang amanah ini, maka dipikullah amanah ini oleh manusia. Dalam memikul amanah ini, Tuhan sudah memberikan rambu-rambu berupa perintah dan larangan dalam Al-Qur’an, demikian juga telah dicontohkan atau diteladankan oleh Nabi dalam berbagai hadisnya. Jadi perintah untuk bertaqwa mempunyai dua rukun yaitu menjalankan perintah dan menjauhi larangannya, dalam bahasa Kang Jalal panggilan akrab untuk Jalaluddin Rakhmat, menjauhi apa yang dibenci atau dimurkai Tuhan, dengan kata lain menjauhi keburukan. Dan melakukan apa yang dicintai dan diridhai Tuhan yakni melakukan kabaikan.
Namun yang menjadi problem kita, mana yang harus difokuskan lebih dahulu, apakah kita akan melakukan lebih dahulu apa yang dicintai atau diridhai oleh Tuhan ataukah menjauhi apa yang dibenci oleh Tuhan. Selama ini kita lebih banyak fokus pada berbuat kebaikan dari pada menjauhi keburukan.
Dalam pandangan Imam Ali, seperti yang diceritakan dalam salah bukunya Kang Jalal, lebih mendahulukan menjauhi keburukan dari pada melakukan kebaikan. Dalam bahasa Imam Ali, “Ijtinab as-sayyi’at aula min iktisab al-hasanat”, menjauhi keburukan harus didahulukan dari melakukan kabaikan.
Dengan mengacu pandangan Imam Ali, itu akan menjawab peristiwa yang dialami oleh Nabi Adam bersama istrinya yang lebih tertarik untuk mendekati pohon khuldi sebagai simbol larangan Tuhan, dengan mencoba merenungi betapa magnet untuk mendekati larangan Tuhan sangat besar pengaruhnya bagi manusia. Ketertarikan manusia kepada berbagai larangan-larangan Tuhan sudah banyak terjadi dalam sejarah kemanusiaan, setiap kehadiran Nabi itu akan disertai lawan yang akan menghalangi perjuangan mereka. Sejarah kenabian adalah sejarah perlawanan dalam menghadapi para tiranik yang menghalangi jalannya misi kebenaran yang di bawa oleh seorang Nabi.
Itulah secercah bahan renungan untuk mengevaluasi ketaqwaan kita, mari kita senantiasa untuk memperbaharui Ketaqwaan kita, seperti halnya keimanan kita.
(Bumi Pambusuang, 24-12-22)
Penulis : Ilham Sopu ( ASN Kemenag Sulbar)


Post Komentar