Skeptisisme Musa oleh : Ilham Sopu
Dalam sejarah Islam, ada peristiwa-peristiwa yang bisa dijangkau oleh akal manusia dan ada peristiwa-peristiwa yang bisa didekati dengan pendekatan imani, misalnya peristiwa isra dan mi’raj Nabi Muhammad saw. Sewaktu Nabi baru saja berisra’ mi’raj, kemudian Nabi mengabarkan kejadian yang baru saja dia jalani kepada para sahabatnya dan kepada kafir Quraisy Makkah. Setidaknya ada dua tanggapan terhadap kejadian yang baru saja diumumkan oleh Nabi, tentang peristiwa yang baru saja Nabi alami. Dikalangan para sahabat yang diwakili oleh sahabat Abu bakar As Siddiq, sangat percaya apa yang disampaikan oleh Nabi tentang diperjalankannya Nabi dari mesjid Haram ke mesjid Aqsa dalam waktu singkat hanya semalam.
Dilain pihak, kubu kafir Quraisy yang diwakili oleh Abu Jahal semakin tidak percaya kepada Nabi Muhammad, semakin kafir ketika mendengar peristiwa tersebut, bahkan mereka mengejek Nabi sebagai orang yang gila. Para kafir Quraisy dalam memandang peristiwa isra dan mi’raj dengan menggunakan pendekatan akal, sehingga mereka tidak percaya peristiwa tersebut.
Dalam pandangan Islam, eksistensi Isra dan Mi’raj adalah sesuatu yang benar terjadi karena direkam dalam Al-Qur’an, “Mahasuci(Allah swt) Yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad saw) pada (suatu) malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekitarnya supaya Kami memperlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia (dan hanya) Dia-lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat”.
Inilah ayat yang menjadi dasar tentang kebenaran terjadinya Isra dan Mi’raj, sehingga dikalangan muslim tidak ada yang menolak terjadinya peristiwa tersebut. Yang menjadi perbedaan adalah bentuk perjalanan Nabi, dikalangan Ulama, ada dua pendapat, pendapat pertama Nabi diperjalanankan dengan tubuh dan rohnya dan pendapat kedua diperjalanankan dengan rohnya saja. Kedua pendapat ini punya argumentasi masing-masing. Namun dikalangan ulama lebih banyak menganut bahwa Nabi diperjalanankan dengan tubuh dan rohnya.
Tujuan utama dari peristiwa Isra dan Mi’raj ini adalah sebagaimana tergambar dari ayat di atas yakni “Linuriyahu min ayatina”, memperlihatkan kepada Muhammad saw tentang kekuasaan Tuhan. Sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya, diperlihatkan kepada Muhammad saw, berupa ayat-ayat kauniyah, alam semesta, perjumpaan dengan Nabi-nabi terdahulu, dan hal-hal lain yang sifatnya eskatologis, dan juga tawaran-tawaran kepada Nabi berupa simbol-simbol pilihan yang akan menentukan pilihan umatnya ke depan.
Dalam pemahaman Isra dan Mi’raj dari perspektif tradisional, ada diceritakan, Nabi ditawari tiga minuman untuk dipilih salah satunya oleh Nabi, berupa secangkir berisi air, susu, dan anggur, maka Nabi memilih susu yang ditafsirkan sebagai memilih jalan yang benar. Susu adalah simbol minuman yang sarat nilai kesehatan yang tinggi, dalam sejarah kenabian bahwa susu dan madu adalah dua minuman favorit Nabi sekalipun Nabi jarang menikmatinya. Banyak pelajaran-pelajaran yang penting yang bisa diserap dari peristiwa Isra dan Mi’raj baik itu berkaitan dengan ilmu-ilmu kealaman maupun yang berkaitan dengan penafsiran peribadatan.
Salah satu juga yang sangat menarik dalam peristiwa ini adalah ketika Nabi akan kembali dari langit dan Sidrah al Muntaha, dan telah menerima perintah shalat lima waktu dari Tuhan, perintah yang langsung diterima dari Tuhan tidak melalui perantaraan Malaikat, itu juga yang menjadi keistimewaan dari perintah Shalat karena diterima tidak melalui perantaraan. Namun demikian hal yang menarik dari perintah ini adalah dalam perspektif pandangan tradisional atau riwayat yang diceritakan dalam kitab-kitab klasik yang mengupas tentang Isra dan Mi’raj.
Dalam riwayat tersebut, ketika Nabi dalam perjalanan pulang dari Mi’raj, Nabi Muhammad saw dicegat oleh Nabi Musa as, dan menanyakan apa yang telah diterima dari Tuhan, dan Muhammad saw menjawab, yang baru saja menerima perintah shalat 50 waktu dalam sehari. Nabi Musa terkejut dengan perintah tersebut dan memberikan masukan kepada Muhammad saw untuk kembali kepada Tuhan dan minta pengurangan dari jumlah 50 kali dalam sehari. Dalam pandangan Nabi Musa bahwa umat Muhammad saw tidak akan mampu untuk menjalankan perintah tersebut. Ini mungkin karena Nabi Musa sudah sangat berpengalaman dalam membina umatnya yakni umat Yahudi, sehingga sangat faham tentang umat yang mereka bina bertahun-tahun.
Nampaknya prediksi atas kekhawatiran Nabi Musa tersebut, kalau kita bawa di era sekarang ini, suatu era yang sangat kuat pengaruh tentang materialisme, hedonisme, pragmatisme yang melanda berbagai aspek atau segmen kehidupan kemanusiaan, itu akan berat untuk dijalankan umat Muhammad saw. Dalam riwayat tersebut bolak-balik Muhammad saw, menuju Tuhan untuk meminta pengurangan perintah shalat dari 50 waktu, dipres menjadi 5 kali sehari semalam. Itupun dititik 5 kali sehari Nabi Musa masih keberatan, tapi Nabi Muhammad saw sudah tidak menggubris lagi keberatan Nabi Musa.
Keputusan Nabi untuk mempertahankan lima kali sehari semalam dalam melakukan shalat, suatu keputusan yang tepat, itu adalah jalan tengah dalam peribadatan kepada Tuhan, dalam perspektif Nabi Musa peribadatan lebih menonjolkan sisi-sisi formal dari ajaran agama. Nabi mencoba menyeimbangkan antara sisi formal keagamaan dengan sisi intrinsik dari ajaran agama. Ajaran agama yang diturunkan oleh Tuhan lewat Ibrahim menghasilkan dua ajaran yang agak kontras, lewat Musa dan Isa as, orientasi keberagaman Musa adalah berorientasi syariah atau formalistik sedangkan Isa lebih mengedepankan orientasi kasih sayang.
Dengan kehadiran Muhammad saw kedua orientasi keberagaman itu dicoba untuk diakomodasi oleh Muhammad saw, sehingga menjadilah ajaran Nabi Muhammad adalah ajaran tawasut atau keseimbangan antara segi-segi formal dan sisi-sisi dalam ajaran agama.
(Bumi Pambusuang, 2 Pebruari 2023)


Post Komentar