Pakaian Kebesaran Oleh : Burhanuddin Hamal ( Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kec.Tinambung Polewali Mandar )
Umumnya manusia cenderung berlomba, bersaing bahkan tak jarang terjebak dalam perseteruan demi memperebutkan mahalnya “pakaian kebesaran”. Motifnya tentu saja bukan hanya karena agama memandang hal berpakaian itu sebuah keutamaan (kemestian ber-ihtiyar demi membangun kehidupan Duniawi yang gemilang) melainkan pula karena dengan pakaian, seseorang akan bisa dikenal, disegani, dihargai bahkan mungkin dikultus dalam posisi-posisi tertentu.
Bila filosofi dan fungsi pakaian dapat menutup aurat diri (eksistensi yang terjaga dalam tatanan nilai-nilai kehormatan), maka problem tentang pakaian pula berpotensi “menelanjangi” manusia dalam krisis-krisis harga diri (muatan QS. At-Tin: 4-6). Dua kemungkinan tersebut bisa saja terjadi kapan dan dimana saja, semuanya bergantung pada bagaimana memaknai “pakaian itu apa” terlebih seperti apa cara manusia “mengenakannya” dalam perhelatan dinamika kehidupan.
Ketika pakaian kebesaran dianalogikan dalam bentuk popularitas jabatan yang berkonsekuensi kekuasaan, pundi-pundi harta serta capaian ilmu yang menjadi kunci ketenaran, maka persepsi dan konsistensi moral manusia terhadap semua itu menjadi sentral penentu bagi perjalanan reputasi sosialnya. Ini membuktikan bahwa semua yang menjadi fasilitas kehidupan tak lebih hanyalah “titipan sementara” yang pada tataran Duniawi dan Ukhrawinya menuntut pertanggung-jawaban atas pengelolaan manusia (legitimasi QS. Yasin: 65).
Terkait keseimbangan eksistensi, Rasul bersabda “bekerjalah untuk Duniamu seolah engkau akan hidup selamanya”. Potongan Hadits tersebut berisi motivasi agar manusia memaksimalkan perjuangan hidupnya demi mendapatkan pakaian-pakaian kebesaran Duniawi dalam bentuk apapun. Akan tetapi, lanjutan Hadits tersebut juga mengingatkan manusia agar jangan sampai melupakan urgensi Ukhrawi yang bukan tak mungkin disebabkan oleh kepongahannya dalam melegitimasi pakaian-pakaian kebesaran diri secara keliru.
Tentu saja, agama menginginkan pola hidup yang berorientasi “wasathiyyah”. Yaitu kehidupan yang proporsionalitasnya seimbang dalam tatanan dua dimensi penting (Dunia dan Akhirat). Bukankah muatan ini yang selalu menjadi standar do’a di keseharian kita ?.
Karena itu, mengedepankan prinsip-prinsip iman dan penjabaran taqwa dalam setiap aktivitas tak hanya menjadi solusi masa depan, tetapi juga merupakan tujuan inti dari keberadaan manusia di muka bumi (muatan QS. Al-Baqarah: 30, QS. Ad-Dzariyat: 56).
Pada ahirnya, sehebat apapun reputasi dan megah ragamnya pakaian kebesaran Duniawi dalam capaian ikhtiyar manusia, cepat atau lambat, semuanya pasti akan berahir dalam dua kemungkinan yakni entah kita yang ditinggalkan atau kita yang pasti meninggalkannya. Disaat jasad manusia telah terbujur kaku dalam bungkusan “kain putih” tanpa merek dan label maka sesungguhnya itulah cermin sejati dari pakaian kebesaran diri manusia menuju pertanggung-jawaban nilai kehidupan yang tak lagi mengenal rekayasa….. (legitimasi QS. Al-A’raf: 26).
Ushikum wanafsi bitaqwallah, Wallahu a’lam bisshawab.


Post Komentar