KONSISTENSI MAULID OLEH : BURHANUDDIN HAMAL
للَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ
MAULIDURRASUL yang awalnya digagas oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pendiri Dinasti Ayyubiyah) di masa pemerintahannya adalah budaya positif yang hingga kini setahun sekali rutin kita peringati. Lewat seremoni suci bernafaskan cinta Rasul ini, kita tentu beroleh penyegaran spritualitas terkait kepribadian Muhammad sebagai utusan pilihan.
Seribu satu macam muatan percontohan ahlak karimah Beliau, secara personal maupun sosial sangat efektif menjadi solusi permasalahan hidup dan peradaban masa depan manusia. Salah satunya, ketika terjadi perseteruan memanas antar kelompok masyarakat Quraisy yang merasa paling pantas dan berhak mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya (persaingan feodalisme dan popularitas). Rasul ketika itu tampil melerai dengan cara meletakkan “batu hitam” tersebut di atas hamparan sorbannya. Setelah itu, masing-masing dari pemimpin kelompok diminta andil untuk memegang pinggir sorban lalu bersama-sama mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Atas jaminan kepercayaan dari para kelompok yang nyaris bertikai itu ahirnya peristiwa tersebut justru menjadi kronologi lahirnya gelar AL-AMIN (Sosok Yang Dipercaya) bagi diri Rasul.
Bila kita ingin mengambil hikmah terkait peristiwa di atas maka pertanyaannya kemudian adalah ketika posisi kewenangan kita berada di pusaran ragamnya persoalan hidup dan kemanusiaan, mampukah kita menjadi figur penyelamat atau Mediator Solution yang kondusif bagi maslahatnya sebuah kebersamaan ?. Tentu saja kemampuan personal yang dimaksud tak lepas dari keutamaan sifat amanah dan sifat-sifat keislaman lainnya yang penjabarannya menuntut kearifan dan kebijaksanaan.
Keputusan sikap yang melahirkan muatan keseimbangan, keadilan dan kebersamaan seperti yang diinisiasi Rasul dalam peristiwa bersejarah tersebut sangat inspiratif dan patut direnungkan. Cerminan sifat fathanah (kecerdasan) dan tanggung-jawab sebagai pemimpin tentu saja sangat diperlukan dalam merespon pasang-surutnya dinamika kehidupan. Sifat inilah kemudian yang secara persuasif menyentuh rasionalitas para kelompok yang tadinya berseteru hingga ahirnya tersatukan kembali didalam indahnya kebersamaan.
Masih tak terhitung deretan kemuliaan ahlak Rasul dimana lewat momentum Maulid sesungguhnya kita diminta untuk belajar meneladaninya. Hanya saja, rutinitas Maulid yang telah menjadi agenda tahunan ini terlihat masih dominan bermain di seputar target-target seremoni. Cerita tentang kepribadian Muhammad yang ahlaknya sangat santun, manusiawi dan penuh kasih bagi semua kalangan itu memang sungguh menggugah. Akan tetapi, seiring dengan berlalunya momentum suci tersebut, fakta-fakta empirik dari kehidupan pribadi dan sosial kita pun perlahan kembali berjarak dari “nilai-nilai Muhammad”. Semaraknya minat bermaulid di berbagai level dan skala terhitung tak berbanding ketika setelahnya konsistensi kita terhadap jejak-jejak kepribadian Sang Uswatun Hasanah itu kembali surut ?
Selagi realitas keummatan tak menganggap tradisi Maulid sebagai “amanah moral” yang efektifitas positifnya penting dikaji, maka sebergengsi apapun perhelatannya dari tahun ke tahun tetap saja akan gagal memproduksi “manusia-manusia Muhammad” di era kekinian (QS. Al-Ahzab: 21).
Sisi lain yang tak kalah pentingnya dianalisis adalah rangkaian amalan shalawat yang tertuju pada Rasulullah merupakan syarat keabsahan dan capaian keberkahan suatu ibadah (tekstual maupun kontekstual). Tentu saja keberkahan yang dimaksud tak hanya sebatas pengharapan syafaat dari diri beliau, melainkan moralitas cinta terhadap risalahnya juga diharapkan menjadi sumber kemaslahatan kolektif. Muatan QS. Al-Anbiya’: 107 mengisyaratkan bahwa eksistensi diri sebagai “pengikut Muhammad” hendaknya menjadi figur teladan dalam menebarkan wujud-wujud kebaikan, kedamaian dan keselamatan di seantero semesta.
Karena itu, indikator keberhasilan bermaulid sesungguhnya tak hanya diukur pada antusiasitas “momentum cinta sesaat”, melainkan pula dengan makin positifnya peningkatan etika-etika kepribadian serta berkualitasnya tatanan-tatanan hidup “keummatan”.
Sebagai manusia pilihan, Muhammad SAW telah mengkonfirmasi visi dan misi kerasulannya. Disamping menjadi sentralisasi “rahmat” bagi kehidupan secara umum, juga kehadirannya bertujuan untuk menyempurnakan rekonstruksi akhlak-akhlak peradaban manusia. QS. Al-Baqarah: 257 menekankan betapa Muhammad dan ummatnya mengemban tugas suci dari Tuhan untuk membangun kehidupan dan menyelamatkan manusia dari fakta-fakta KEBIADABAN menuju realitas KEBERADABAN. Semua ini tentu saja harus “berproses” didalam mekanisme kebenaran, motivasi cinta dan keindahan serta beresensikan nilai-nilai keselamatan bersama (muatan Keislaman).
Usikum wanafsi bitaqwallah, Wallahu a’lam bissawab.
PENULIS : BURHANUDDIN HAMAL
EDITOR : MAHMUDDIN HAKIM


Post Komentar