URGENSI UKHUWAH Oleh : Burhanuddin Hamal ( Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kec.Tinambung )

Merawat Ukhuwah dan nilai-nilai kebersamaan adalah hal yang utama. Salah satu hikmahnya adalah seseorang ternyata bisa mendapatkan kebaikan dan rahmat dari Tuhan tanpa harus tahu lewat tangan siapa yang diam-diam telah mendo’akannya.

Itulah sebabnya, leluhur Mandar sejak awal menganalogikan ammesanna pallulluareang (eksistensi kebersamaan) pada Sambua Tallo’. Diang maririnna, diang uli’ maputena, diatto’o garattanna. Pemicu masalahnya kemudian mua’ sangga’ maririnna disanga Tallo’ apa’ tania womo tu’u sambua sangana. Mappasirua wandi mua’ melindo-lindo mariri tongambandi a’dupanna atauang apa’ natatta’mi tia nacanring pa’banua

(Analogi “sebuah telur” merupakan cermin keragaman dari lapisan-lapisan sosial kemasyarakatan. Meski klasifikasi tersebut sekilas berbeda namun justru menjadi fakta dari kebesaran sebuah eksistensi dalam skala apapun. Karena itu, kecenderungan “merasa diri segalanya” bukan hanya menjadi racun bagi stabilitas kehidupan sosial tetapi ego primordialisme tersebut juga mengebiri hakikat keutuhan dari sebuah kebersamaan).

Hal ini sesungguhnya relevan dengan salah satu materi Filsafat Nilai yang mendefenisikan teori bahwa “HAKIKAT adalah gabungan dari seluruh unsur-unsur terkait yang menjadikan SESUATU dikenal sebagai dirinya”. Tentu saja ini adalah konsep kebersamaan yang muatannya sejalan dengan prinsip-prinsip budaya Sipakatau dan bukan “Siapa Kau”. Bisa dibayangkan, tanpa kebersamaan dalam bingkai Ukhuwah maka bagaimana mungkin kehidupan ini akan bisa berjalan dalam tatanan yang semestinya ?

Lebih dari itu, nilai-nilai Maulid yang menjadi agenda seremoni keislaman pada setiap tahunnya juga bersinergi dengan muatan Keukhuwaan ini, dimana ajaran Rasulullah sangat menjunjung tinggi arti sebuah kebersamaan.

Usikum wanafsi bitaqwallah, Wallahu a’lam bissawab.

Penulis : Burhanuddin Hamal

Editor : Mahmuddin Hakim

0

Post Komentar

Gulir ke Atas