Santri Berdaya Kemanusiaan Bermartabat ( Refleksi Hari santri ) Oleh Ilham Sopu ,SS
Hari santri tahun ini mengusung tema yang cukup menarik, yaitu berdaya menjaga martabat kemanusiaan. Dilihat dari aspek kebahasaan, berdaya itu artinya punya daya, punya kekuatan,punya stamina, sedangkan martabat itu biasa diterjemahkan posisi, ikatan. Martabat kemanusiaan adalah mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Sesuai dengan tema di atas bahwa seorang santri itu haruslah berdaya, harus punya energi, kuat, cerdas, berkarakter, Kritis, tawadhu. KH.Sahal Mahfudz pernah memberikan suatu pesan kepada santri bahwa setidaknya seorang santri harus memiliki lima karakter yaitu seorang santri harus punya prinsip, seorang santri jangan pernah berhenti belajar, seorang santri harus kritis, seorang santri harus berani, tidak minderan, seorang jangan pernah melupakan guru-gurunya, jangan pernah berhenti mendoakan mereka.
Itulah sebenarnya yang harus menjadi representasi dari seorang santri. Berprinsip disini adalah bahwa seorang santri punya kapasitas keimanan yang kuat. Keimanan seorang santri akan tumbuh secara alami karena mereka melewati pergumulan dengan lingkungan pesantren yang sangat identik dengan kehidupan religius yang kuat, dengan menjadikan Kyai sebagai tokoh moral dan sumber ilmu, dan itu akan secara otomatis mengalir dalam diri seorang santri.
Lingkungan pesantren yang religius, syarat dengan kehidupan keilmuan akan melahirkan santri-santri yang berprinsip kuat, punya iman yang bagus. Kehidupan di pesantren itu sifatnya paternalistik, suatu bentuk kehidupan yang menjadikan seorang Kyai sebagai tokoh sentral dalam percontohan moral.
Pendidikan keilmuan di pesantren adalah pendidikan yang tidak punya halte, seorang santri akan terinstall dengan sendirinya lewat program-program pembelajaran yang berjalan secara natural di pesantren. Pelajaran-pelajaran keagamaan akan bersatu dengan ibadah-ibadah keseharian. Antara pembelajaran dan peribadahan itu menyatu dalam dunia pesantren.
Sehingga pesan dari Kyai Sahal bahwa seorang seorang santri tidak boleh berhenti belajar, itu terbukti di dunia pesantren, karena dunia pesantren adalah dunia yang sangat familier dengan dunia pembelajaran. Prose pembelajaran sudah terprogram dari pagi sampai malam, dengan berbagai bacaan-bacaan kitab rujukan dan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas santri.
Dengan prinsip yang kuat atau karakter yang kuat yang dimiliki oleh seorang santri dan ketekunannya dalam pengkajian keilmuan itu yang menjadi dasar dalam kekritisannya. Santri harus punya daya kritis yang kuat, seorang calon intelektual atau ulama kedepan mesti punya kekuatan yang berfikir yang mendalam. Alqur’an sangat mendorong manusia untuk menggunakan daya pikir yang kuat.
Dalam sebuah ungkapan yang sering dikutip ulama-ulama Nahdhiyyin yaitu “Al Muhafadzatu al qadim al shalih wal akhdzu bil jadid al ashlah”. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Sangat menarik ungkapan ini, ungkapan seperti ini harus menjadi pegangan seorang santri, bukan saja sebagai teks, tetapi yang lebih penting adalah konteks dari ucapan tersebut.
Ada dua hal yang sangat penting bagi seorang santri dari ungkapan di atas, yaitu memelihara nilai-nilai lama dan memproduksi nilai-nilai yang kontemporer. Mempertahankan nilai-nilai lama itu sangat penting, betapa banyaknya peninggalan-peninggalan ulama dulu yang masih sangat punya nilai keilmuan yang sangat dibutuhkan untuk hari ini, sebagai rujukan moral atau rujukan spritual.
Dalam pesantren-pesantren klasik itu sangat familier dengan kitab-kitab klasik seperti karya Al Ghazali, Nawawi Al Bantani, Abdullah Bin Alwi Al Haddad dan ulama-ulama lainnya baik sebelum Al Gazali maupun sesudahnya, sekalipun karya-karya mereka sudah dianggap klasik tetapi masih sangat relevan untuk kajian hari ini, dan kitab-kitab karya mereka masih menjadi rujukan sentral di pesantren-pesantren tradisional.
Seorang santri yang berdaya, penguasaan terhadap ilmu-ilmu klasik Islam yang menjadi peninggalan dari ulama-ulama terdahulu adalah suatu keniscayaan. Sebagai bekal dalam memecahkan persoalan-persoalan keummatan yang rumit ke depan. Salah satu kelemahan yang dimiliki oleh para cendekiawan muslim kita hari ini, adalah mereka tidak familiar dengan penguasaan kitab-kitab klasik, atau tidak punya akses terhadap peninggalan ulama-ulama klasik. Atau dalam bahasa pesantrennya mereka kurang penguasaan terhadap kajian-kajian ilmu alat sebagai pintu masuk dalam memahami kitab-kitab peninggalan ulama-ulama dulu.
Kemudian seorang santri harus punya penguasaan terhadap ilmu-ilmu kontemporer, artinya bahwa santri punya penguasaan terhadap ilmu-ilmu modern yang bisa menopang keilmuannya dalam penguasaan ilmu klasik, penguasaan terhadap ilmu-ilmu berkaitan dengan filsafat, psikologi, komunikasi, hermeneutika, penafsiran-penafsiran modern terhadap teks-teks keagamaan. Ilmu-ilmu ini juga sangat penting sebagai pengejawantahan terhadap ilmu-ilmu klasik dan untuk menjawab persoalan-persoalan kekinian. Penguasaan terhadap kedua orientasi ini yakni orientasi nilai-nilai klasik dan orientasi nilai-nilai modern menjadi kekayaan yang menjadi milik seorang santri.
Banyak santri-santri yang merupakan alumni pesantren yang punya jasa terhadap pengembangan intelektual atau pembaharuan pemahaman Islam di Indonesia, katakanlah dua ulama asal Jombang yang mewarnai pemikiran Islam di Indonesia di era tahun 80 an sampai 2000 an, yakni Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gusdur dan Nurcholish Madjid yang akrab disapa Cak-Nur.
Kalau kita membaca sejarah perjalanan kedua cendekiawan muslim ini, yang keduanya berasal dari Jombang, mereka berangkat dari pesantren tradisional, dan konsisten menjalani misi keilmuan, mereka berdua sudah sangat matang dibidang keilmuan klasik sebelum menginjakkan kaki di perguruan tinggi. Kedua pemikir Islam ini sangat matang dengan akses nilai-nilai keilmuan klasik atau akrab dengan kitab-kitab kuning begitupun juga dengan wawasan keilmuan modern juga sangat matang karena keduanya merupakan alumni-alumni terbaik dari perguruan tinggi ternama di luar negeri.
Kedua cendekiawan atau ulama ini, adalah merupakan santri-santri tulen yang harus menjadi rujukan santri-santri hari ini, setidaknya penguasaan terhadap ilmu-ilmu klasik masih sangat dibutuhkan, begitupun dengan analisa-analisa modern atau kontemporer juga harus menjadi acuan atau penguasaan seorang santri.
Dengan demikian santri yang berdaya adalah yang punya gabungan ilmu klasik dan modern sehingga mereka ke depan dapat memperjuang misi kemanusiaan sebagaimana perjuangan para Nabi.
(Bumi, Pambusuang, 21 Oktober 2022).
Penulis : Ilham Sopu ,SS ( ASN Kemenag Sulbar )
Editor : Mahmuddin Hakim


Post Komentar