Mengadopsi Karakter Nabi Oleh Ilham Sopu,SS
Agama sebagai produk langit yang dikirim oleh Tuhan kepada Nabi-Nya adalah merupakan petunjuk yang ditujukan kepada manusia sebagai kompas dalam mengarungi arah kehidupan di dunia ini. Tuhan sebelum mengutus Adam ke dunia ditransitkan dulu di surga untuk diberikan pembekalan tentang hal-hal yang akan lakukan di dunia.
Tuhan memberikan petunjuk ke Adam tentang kondisi surga, disuruh tinggal di surga dan menikmati kenikmatan berbagai fasilitas yang ada di surga, sekaligus juga memberikan interupsi supaya Adam tidak mendekati satu pohon. Adam betul-betul diberikan pembekalan sebelum melaksanakan tugasnya di bumi. Pembekalan itu adalah representasi dari agama.
Manusia sudah terbekali dengan berbagai potensi dan menerima berbagai petunjuk dari Tuhan sebagai bekal dalam menjalankan tugas sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Tuhan bukan hanya menyediakan fasilitas agama untuk manusia, tapi juga mengirim Nabinya sebagai juru bicara agama sekaligus representasi dari agama.
Nabi adalah manusia teladan dalam berbagai aspek. Kehadiran Nabi adalah untuk membawa ajaran agama sekaligus menerjemahkan agama dalam bentuk keteladanan.
Seluruh Nabi membawa satu pesan tunggal dari Tuhan yaitu bagaimana mengesakan atau mentauhidkan Tuhan, seluruh Nabi punya tugas yang sama sebagai penyampai risalah Tuhan kepada umatnya. Semuanya bersumber dari ajaran yang dibawa oleh Ibrahim, sebagai pembawa risalah agama yang menurunkan kepada Musa, Isa dan Muhammad Saw. Sebagai pembawa risalah yang terakhir, Muhammad sebagai penyempurna dari risalah-risalah yang di bawa oleh Nabi-nabi sebelumnya. Muhammad dalam Al-Qur’an mendapat stigma yang sangat agung dalam pandangan Tuhan.
Beberapa ayat Al-Qur’an memberikan maqam yang sangat tinggi terhadap Muhammad seperti, Tidaklah aku mengutusmu kecuali sebagai rahmat sekalian alam. Sesungguhnya kamu Muhammad berada di atas akhlak yang agung. Sungguh telah datang kepada kamu sekalian seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman (Q.9.128).
Dengan merujuk ke ayat-ayat di atas, bahwa Tuhan menempatkan Muhammad Saw sebagai makhluk yang punya kualitas akhlak yang tinggi di sisi Tuhan. Muhammad juga dapat memberikan vibrasi kasih sayang terhadap seluruh alam. Begitupun Muhammad memiliki beberapa karakter yang sangat mulia seperti Azizun, harisun, raupun, dan rahim. Keempat sifat atau karakter ini sangat menonjol dalam diri Nabi.
Keempat karakter yang ada dalam diri Nabi menurut surah Al Taubah 128 adalah :
Yang pertama adalah Azizun, yang diterjemahkan oleh Prof Quraish Shihab dengan berat terasa olehnya apa yang telah membuat kamu menderita. Muhammad adalah Nabi yang punya rasa jiwa sosial yang tinggi terhadap ummatnya. Nabi tidak bisa dipisahkan dari umatnya. Kecintaan Nabi terhadap umatnya, tidak mengenal waktu atau zaman. Nabi sangat mencintai para sahabat-sahabatnya, umat-umat sesudah sahabat maupun yang datang belakangan yang sangat berjauhan zaman dengan Nabi.
Bahkan kecintaan terhadap umatnya di bawa sampai ke hari mahsyar, hari dimana umatnya berkumpul setelah dibangkitkan dari kuburnya. Mahsyar adalah suatu tempat yang sangat menegangkan, tempat untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal-amal manusia selama dia hidup di dunia.
Menurut riwayat bahwa umat manusia berhamburan untuk mencari pertolongan, mereka mendatangi para Nabi-Nabi sebelum sebelum datang ke Muhammad saw.
Sementara Muhammad saw, bersujud dan menangis dan berdoa kepada Tuhan sambil memanggil umatnya. Dan Tuhan menjawab doa Muhammad dengan menyuruh Jibril untuk menyampaikan kepada Muhammad, Katakanlah kepada Muhammad, “Sungguh Kami (Allah) akan membuatmu ridha dalam masalah ummatmu, dan Kami tidak akan menyakitimu”. Betapa Muhammad tidak pernah melupakan keberadaan umatnya. Seorang Nabi yang sangat mengedepankan visi kemanusiaan dalam mengembang tugas sebagai seorang Nabi.
Yang kedua adalah Harisun, menurut terjemahan Prof Quraish Shihab adalah sangat menginginkan (kebaikan) bagi kamu, diterjemahan kemenag, sangat menginginkan(keimanan dan keselamatan)bagi kamu. Itulah karakter Muhammad saw, sangat punya perhatian yang tinggi terhadap keselamatan umatnya. Tidak pernah kendor dalam menjalankan misi dakwahnya demi untuk keselamatan umatnya.
Bahkan Nabi pernah menghibur umatnya dihadapan para sahabatnya, beruntunglah orang-orang yang melihat aku (orang yang sezaman dengan Nabi) tentunya para sahabat, dan beriman kepada aku, dan lebih beruntung lagi adalah orang-orang yang mengimani aku, tapi tidak pernah melihat aku, frase ini diulangi oleh Nabi sampai tujuh kali, betapa Nabi memberikan perhatian khusus kepada umatnya yang tidak sezaman dengan Nabi.
Pernyataan Nabi tersebut adalah rasional bahwa tantangan keberimanan antara para sahabat dengan umat belakangan atau umat yang tidak sezaman dengan Nabi itu sangat berbeda. Para sahabat secara logika sangat beruntung karena hidup bersama Nabi, selalu mendampingi Nabi, melihat secara langsung praktek keagamaan yang diperankan oleh Nabi, dan bertanya langsung kepada tentang berbagai persoalan hidup dan kehidupan, mendengarkan langsung jawaban dari Nabi. Mungkin itulah salah satu terjemahan dari pernyataan Nabi bahwa sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman berikutnya.
Sedangkan umat yang datang belakangan, yang tidak sezaman dengan Nabi, menerima ajaran-ajaran agama dari Nabi lewat teks-teks tertulis yang disampaikan oleh para ulama, tidak langsung diterima dari Nabi, tidak melihat praktek keagamaan langsung dari Nabi, sehingga tingkat keberimanan para sahabat dengan umat yang datang belakangan berbeda. Namun Nabi sangat cerdas dan disertai suatu kecintaan yang tinggi kepada umatnya yang datang belakangan, memberikan hiburan bahwa umat yang hadir belakangan dan beriman kepadanya mendapatkan keuntungan yang berganda.
Dan karakter berikutnya adalah bahwa Nabi punya sifat raupun dan rahimun sifat penyantun dan penyayang, dua sifat ini sangat nampak dalam diri Nabi. Kalau kita membaca sejarah kenabian, kedua sifat ini tidak pernah terlepas dari kehidupan Nabi, yang dikenal sebagai rahmat bagi seluruh alam. Itulah sifat-sifat atau karakter yang ada dalam diri Nabi, mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan untuk perbaikan karakter diri kita, sehingga kita masuk kategori umat yang dirindukan oleh Nabi.
Bumi Pambusuang, 2 Nopember 2022
Penulis : Ilham Sopu ,SS ( Guru Madrasah pada Kanwil Kemenag Sulbar)


Post Komentar