Generasi Pancasila Oleh : Burhanuddin Hamal ( Penyuluh Agama Islam Fungsional Kec.Tinambung)

PANCASILA adalah bagian dari ekspresi penghayatan keagamaan para pendiri bangsa Indonesia. Didalamnya ada spirit ketuhanan, kemanusiaan yang berperadaban, motivasi persatuan dalam kemajemukan, penerapan nilai-nilai bil-hikmah atau kebijaksanaan, serta kebersamaan yang beresensikan Keadilan.

Muatan kelima sila dari Pancasila sesungguhnya merupakan penerjemahan sosial dari ajaran-ajaran spritualitas. Karena itu, tidaklah patut membandingkan antara Pancasila dengan Al-Qur’an sebagaimana tak seharusnya dipisahkan antara analogi wujud manusia dengan anasir-anasir penciptaan dirinya sendiri. Demi dinamika dan masa depan bangsa, justru yang diperlukan adalah lahirnya generasi-generasi bertipikal Negarawan yang AGAMAWAN atau Agamawan yang NEGARAWAN.

Jika hal ini dikaitkan dengan kearifan lokal Kemandaran, maka identifikasi nilai-nilai Pancasila tersirat dalam kajian filosofi MAMEA GAMBANA TAMMA’ TOPA MANGAYI (Sosok generasi berkarakter Berani, Benar dan Bertanggung-jawab plus Berwawasan agamis).

Legitimasi terhadap pendekatan nilai-nilai kepribadian tersebut secara logis dan etis diharapkan menjadi cermin perjuangan para generasi bangsa menuju Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (terwujudnya negeri impian yang bersituasi aman, sejahtera dan damai dalam naungan ridha Ilahi).

Sebegitu urgennya peran dan partisipasi generasi dalam membangun peradaban dan masa depan negeri, maka Ir. Soekarno (Presiden RI ke I) mencetuskan falsafah “Beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, dan beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan Dunia”. Tentu saja, kualifikasi pemuda atau generasi bangsa yang dimaksud dalam statemen tersebut tak làin adalah yang bermentalitas Pancasila.

Muatan itu sesungguhnya juga terdeteksi dalam kajian QS. Al-Mujadilah: 11 dimana kompetitifnya mutu seorang generasi itu ditandai ketika kepribadiannya mampu mensinergikan antara nilai-nilai KEIMANAN dan ILMU PENGETAHUAN yang dimiliki. Kehebatan generasi bersosok demikian itulah yang bisa diharapkan menjadi pilar-pilar peradaban sekaligus benteng yang kokoh bagi masa depan Bangsa, Negara dan Agama.

Terkait kompetensi kepribadian, Nabi didalam salah satu muatan Haditsnya memang sudah berpesan bahwa “Bukanlah sosok pemuda (generasi) yang cenderung membanggakan kebesaran pamor leluhurnya, melainkan nilai kepemudaan itu ada pada mereka yang didalam kemandiriannya mampu berkata INILAH SAYA (pembuktian kualitas diri dan reputasi sosial yang positif)”.

Ushikum wanafsi bitaqwallah, Wallahu a’lam bisshawab

0

Post Komentar

Gulir ke Atas