Dongeng Anak dan Cucuku


Oleh : Nahar Frakasiwi
Hanya pemuda yang mencari hiburan terkait karya sastra

Sesuai tata bahasa
Telah kutuang klausa
Samar tanpa rasa
Menjadi apa yang kutuliskan
Telah menjadikan apa yang kukatakan

Anak kancil yang nakal
Kurung, jangan diberi ampun
Istilah itu pernah menggodaku lima belas tahun lalu  
Buah cipta kawula muda masa itu
Buah studi sastra dari sang kutu buku

Akulah anak yang baru membuka mata
Senang kumelangkah menelusuri lembah
Menemukan hal yang menarik mata
Di sana, aku dapati aksara yang sepi
Tiada selain angin dan hujan terjumpai

Kulihat tumbuh besar kuil dongeng di sana
Begitu indah bersemedi di dalam bingkainya
Menadah angka-angka dengan sampul estetika
Berwajah ramah menatap pelbagai penjuru dunia
Meniupkan nyawa kepada syair-syair dusta

Akulah pengagum primadona aksara
Terbentuk dari arah yang sebenar-benarnya gairah
Tunduklah wajahku sepandang jujur untaian kata
Hanya jika kukuh untuk enggan lagi melirik klausa pasif, dari narasi berduri pesona puspa merahnya mawar jelita

Entahlah…
Semilir cantiknya menuai kontra dalam kepalaku sahaja
Akan kusembunyikan dari generasiku selamanya  

Tanggerang, Jum’at  27  November


Puisi ini telah tayang di : https://www.kompasiana.com/
Dengan judul : Dongeng Anak dan Cucuku

Penulis : Nahar Frakasiwi
Hanya pemuda yang mencari hiburan terkait karya sastra

+1

Post Komentar

Gulir ke Atas