BUDAYA MAPPATAMMA’ DI MANDAR Oleh : Burhanuddin Hamal (PAIF KUA Kec.Tinambung )

Pada dasarnya, istilah Totamma’ dalam tradisi lokal Kemandaran secara logis dan etis tertuju pada generasi yang sudah mampu membaca Al-Qur’an. Adapun missawe di waona saiyang pattu’du’ merupakan apresiasi yang dibudayakan terkait capaian itu.

Dulu, leluhur Mandar sangat menghargai eksistensi Al-Qur’an dalam fungsinya sebagai pedoman keselamatan hidup sehingga kompetensi yang terkait dengan kesakralannya cenderung “dimuliakan”. Ironinya, dinamika yang berkembang kemudian mengalami kejanggalan hingga budaya positif ini tersisa sebatas “tontonan” tanpa “tuntunan”.

Melestarikan budaya Kemandaran seperti diantaranya Mappatamma’ yang selama ini menjadi agenda tahunan tak cukup hanya dengan mengurusi hal-hal modis dan penampilan para generasi di atas punggung kuda penari.

Lebih dari itu, standarisasi kemampuan para generasi dalam hal membaca Al-Qur’an merupakan hal vital yang seharusnya menjadi target dari pelestarian kebudayaan ini. Demikian bila kita ingin konsisten terhadap pemberdayaan NILAI-NILAI AGAMIS yang pada awalnya melatari lahirnya budaya fenomenal tersebut.

Di era kekinian, gaya hidup yang umumnya mewarnai realitas kita di berbagai lini cenderung hedonis, budaya pesta dan hura-hura mendominasi serta pengabaian nilai-nilai kemuliaan dalam hal-hal tertentu tak jarang terjadi.

Tentu bukan tak mungkin, bias dari dinamika inilah yang menyebabkan budaya Mappatamma’ sebagai refresentasi Kemandaran terkait kemuliaan Al-Qur’an mengalami pergeseran nilai dan terancam tak lagi produktif.

Dengan tidak adanya jaminan para generasi (meski tidak semua) dalam hal tahu membaca Al-Qur’an sebagai indikatornya maka budaya Mappatamma’ tak lebih hanyalah euforia sesaat atau semacam parade generasi yang cenderung memperbandingkan kecantikan fisik dan penampilan semata. Tidakkah gaung tradisi ini justru akan bertahan didalam nilai kesakralannya bila upaya pelestariannya tak memisahkan antara analogi “isi” dengan “kemasannya”…?

Pengembangan hikmah yang tak kalah pentingnya dibaca dari tradisi Mappatamma’ adalah tentang kepemimpinan. Setiap diantara kita adalah pemimpin setidaknya bagi kehidupan diri sendiri (muatan HR. Bukhari).

Seorang Totamma’ yang dengan penuh wibawa diarak dalam iringan kepiawaian Appe’ pesarung atau empat pengawal pilihan (simbol dari persekutuan empat daerah Hadat) merupakan analogi kehormatan sosok pemimpin yang dengan karakter kepanutannya menarik simpati masyarakat dan memberikan maslahat pada negeri. Tentu saja karakter diri yang dimaksud terakumulasi dalam filosofi Mamea Gambana Tamma’ Topa Mangayi.

Mereka adalah sosok-sosok pilihan yang mampu mengimplementasikan sinergitas antara nilai-nilai Keberanian, Kebenaran dan Tanggung-Jawab serta kompetensi plusnya adalah BERWAWASAN AGAMIS. Ini menandakan bahwa tanpa “nilai-nilai agama” sebagai syarat penyempurna atau sentral penentu maka tiga kompetensi utama sebelumnya pasti akan gagal diperankan oleh seorang pemimpin. Melindo-lindo mariri natatta’ nacanring pa’banua (pemimpin yang berkepribadian positif hingga rakyat cinta dan setia padanya) itulah jati diri Tomandar.

Oleh sebab itu, tentunya menjadi tugas kita semua untuk andil dalam melakukan edukasi kebersamaan terkait prospek budaya Mappatamma’. Tanpa kepedulian untuk “saling mengingatkan” lewat cara dan mekanisme yang memungkinkan maka warisan budaya positif yang satu ini akan semakin kehilangan nilai esensinya.

Ushikum wanafsi bitaqwallah, Wallahu a’lam bisshawab.

0

Post Komentar

Gulir ke Atas