Tahun Baru Masehi dan Introspeksi Diri
Menyambut dan merayakan tahun baru masehi sudah menjadi budaya umum penduduk bumi, tak terkecuali sebagian kaum Muslim yang juga ikut merayakannya. Namun, tidak sedikit juga agamawan, ustaz yang melarang perayaannya. Mereka beralasan, merayakan tahun baru masehi adalah perbuatan yang tidak bermanfaat dan banyak, yang memanfaatkannya untuk melakukan perbuatan maksiat.
Karena perbuatan sebagian orang yang melanggar norma agama, bukan berarti merayakan tahun baru masehi tidak diperbolehkan. Salahkan perbuatannya yang tidak baik, jangan klaim perayaan tahun baru masehi adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan, karena tidak sedikit juga yang memanfaatkan momentum pergantian tahun baru masehi dengan hal-hal yang positif, misalnya berkumpul bersama keluarga dan sahabat, merenungi perbuatan yang telah lalu dan berdoa untuk kebaikan di masa yang akan datang.
Begitu juga dengan perayaan hari Ibu, meskipun ada yang menghukumi haram, tetapi nalar tidak bisa menerimanya, karena dalam perayaan hari Ibu yang ditetapkan pada tanggal 22 Desember, ada sisi positif yang bisa kita dapatkan di dalamnya. Dengan adanya hari Ibu, anak menjadi antusias berbuat baik dan membahagiakan Ibunya pada hari itu, dan diingatkan bahwa setiap hari, setiap saat seorang anak harus selalu berbakti kepada kedua orang tuanya.
Hal yang paling baik dilakukan pada perayaan tahun baru masehi adalah bermuhasabah (mengintrospeksi) diri atas perbuatan kita selama setahun yang lalu. Biasanya kita hanya melakukan introspeksi diri di awal tahun baru hijriah. Alangkah lebih baiknya kalau kita juga bermuhasabah di pergantian tahun baru masehi. Makin banyak perayaan makin baik, karena lebih banyak kesempatan untuk mengintrospeksi diri dan melakukan hal-hal baik.
Orang yang dalam hidupnya tidak pernah bermuhasabah, berarti dia menganggap dirinya aman-aman saja hidup di dunia dan kalau sudah menganggap diri aman, maka sulitlah baginya mendapati dirinya dalam kesalahan. Orang seperti ini kelak Tuhan tidak akan memberikan rasa aman kepadanya. Umar berkata, Haasibu anfusakum qabla antuhaasibu, Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.
Banyak yang perlu dihisab dari diri kita. Kualitas ibadah kita misalnya, jika tahun kemarin kadang kita tidak salat lima waktu atau salat subuh kita biasanya dilaksanakan pada jam 7 pagi, maka tahun ini kita berkomitmen untuk mendirikannya dan salat pada waktunya. Pekerjaan yang kita lakoni, apakah kita sudah benar-benar menjalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya? Jika kita sebagai pimpinan, apakah kita sudah berbuat adil dan tidak berbuat dzolim terhadap bawahan?
Kemudian tak kalah lebih penting juga, mengintrospeksi hubungan kita terhadap sesama, kepada keluarga, sahabat, dan lingkungan. Jika selama ini kurang rukun dan harmonis karena perbedaan keyakinan, pemikiran, dan lain sebagainya, saatnyalah kita perlu saling memahami perebedaan dan mencari persamaan demi terbangunnya hubungan yang rukun dan harmonis.
Tentu kita merasa lelah kalau terus-terusan meruncingkan dan menonjolkan perbedaan, energi habis hanya pada perdebatan saja, terutama soal perbedaan pandangan keagamaan, sedangkan ada sektor lain yang lebih penting mendapat perhatian serius, seperti kemajuan pendidikan, kemiskinan, integritas para pemimpin yang bermasalah sehingga korupsi dianggap biasa-biasa saja, dan lain sebagainya.
Menurut Dr. Yusuf Abdul Rahman al-Mar’asyli, seorang ulama asal Beirut, Libanon, hakikat muhasabah adalah memeriksa apa yang sudah terjadi dan apa yang akan datang. Keduanya wajib sebagaimana telah menjadi kesepakatan para ulama. Memeriksa apa yang sudah terjadi menurut Yusuf Abdul Rahman adalah mengintrospeksi diri dari malam ke malam. Jika kamu lalai di siang hari, hendaklah diperbaiki dengan taubat dan memohon ampun kepada Tuhan. Setiap orang beriman hendaknya memperhatikan apa yang sudah diperbuatnya. (QS. Al-Hasyr ayat 18).
Itulah sebabnya, Nabi Saw. sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak istighfar, karena manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Sebagai makhluk sosial yang sehari-hari berinteraksi kepada sesama, sangat mungkin kita berbuat salah. Untuk itu, mengintrospeksi dengan mengoreksi diri sendiri atas perbuatan yang telah dan akan kita lakukan sangat penting. Jangan malah menghabiskan waktu mengoreksi orang lain, karena hal demikian dapat membuat kita lupa mengoreksi diri kita sendiri.
Penulis/Editor : Rustan Suddin
– Guru pada MTs Negeri 1 Polewali Mandar
– Pengurus IGI Polewali Mandar


Post Komentar