Saya Ingin Serius Mendalami Sastra?
Penulis : Abidin Cinta
Guru MTsN 1 Polewali Mandar
HABISKAN WAKTUMU BELAJAR AL-QUR’AN ITU LEBIH BERKAH DUNIA AKHIRAT!!!
Menurut saya alangkah mulianya ANANDA bila Alquran yang didalami. Sastra seperti puisi dan lain-lain hanyalah luapan endapan rasa yang menjerit, yang teruntai dalam bait-bait hasil cipta rasa imajinasi, yang mengungkap fakta semesta.
Belajar sastra jadikan saja hobi dan tuntutan akademik, sekolah. Kedalaman hakiki sastra hanyalah secuil, ibarat setetes air laut yang diambil dalam kemarau mencekik. Al-Qur’an lebih mendalam sempurna tanpa kekurangan. Semesta alam dunia akhirat dan satu-satunya pedoman hidup sampai pada Sang Ilahi. Habiskanlah waktumu untuk memahami tabir dan rahasia Alquran!!!
Meski dalam dunia sastra ada pendekatan religi dan apresiasi tentang nilai-nilai baik dan ketuhanan, namun lebih baik waktumu engkau habiskan untuk menelaah kajian tentang Al-Qur’an. Bahasa Alquran adalah pedoman hidup dunia akhirat, tak satupun salah dan keraguan didalamnya. Sedangkan, dalam dunia sastra banyak pujangga penyair yang atheis tidak beragama entah mengapa karyanya begitu disanjung.
Karya sastra wujud dari manifestasi batin sangat subjektif akan nilai-nilai sejati. Sudut pandang pengarang sangat sempit ruang cakrawala imajinasi untuk mewakili kehidupan secara luas dan global. Pijakan pikir hanya mampu mengkaji dalam ruang waktu yang berkolaborasi dengan kehidupan pribadi yang dijalaninya.
Al-Quran sebagai wahyu Allah SWT. yang diturunkan secara bertahap pada Rasulullah SAW. sebagai Rahmatan lil Alamin bagi seluruh ummatnya dan semesta alam. 30 juz, 114 surah dan 6666 ayat diturunkan di Makkah dan Madinah untuk manusia di muka bumi Ya Ayyuhannas (wahai sekalian manusia).
Karya sastra hanyalah sebuah diksi utak atik permainan kata meminjam mutiara-mutiara kata yang duduk manis di serambi kamus, bukan hendak menyandingkan kitab samawi firman Tuhan dengan karya manusia tapi ini hanyalah sebuah opini sebagai wacana alternatif untuk memilih kehidupan yang semestinya.
Hidup adalah sebuah pilihan. Di zaman seperti sekarang, benteng agama adalah pondasi kuat untuk menantang peradaban zaman tanpa batas, ilmu pengetahuan umum harus seimbang dengan ilmu-ilmu agama. Melihat fakta dunia kekinian begitu memprihatinkan akhlak dan moral anak bangsa sebagai penerus dan penerima tongkat estafet kepemimpinan masa depan Indonesia, harus digenjot sejak dini.
Mari kita merenung sejenak ungkapan seorang tokoh, Bapak B.J HABIBIE. ”ANDAIKAN WAKTU BISA DIPUTAR SAYA TIDAK AKAN JADI AHLI TEKNOLOGI, SAYA AKAN MENGKAJI ILMU-ILMU AGAMA’‘. Dari siratan pesan amanat di atas, memberi pelajaran bagi kita semua untuk memperdalam ilmu agama.
Tinambung, 8 Januari 2021
Penulis & Editor : Abidin Cinta


Post Komentar