Satya Lencana untuk Apa dan Siapa?


Oleh : Ahmad Danial, S.Kom
Guru MTsN 1 Polewali Mandar

Siapa yang tidak menginginkan sebuah tanda kehormatan berupa Satya Lencana yang merupakan sebuah simbol atas prestasi yang telah kita toreh, Terlebih sudah sekian tahun kita dalam pengabdian atas dedikasi dan kreatifitas yang kita bangun.  Tetapi apakah dedikasi kita selama ini sudah balance (seimbang) dengan penghargaan satya lencana yang kita dapatkan? Atau satya lencana tersebut hanya akan menjadi aksesoris yang tertempel di seragam kita, kemudian kita bangga-banggakan? Lalu untuk apa dan siapa sebenarnya lencana itu?

Bicara soal penghargaan berarti bicara soal prestasi, sedang prestasi itu maknanya luas. Di sini saya akan berbicara secara khusus prestasi di bidang pendidikan, terutama guru karena kebetulan saya berprofesi sebagai guru. Menurut saya, seorang  guru yang  berprestasi itu tidak hanya ahli di bidang yang ia ampuh, lebih dari itu seorang guru harus bisa memposisikan diri sejatinya sebagai seorang pendidik. Disini guru dituntut selain kreatif, juga  harus mampu menanamkan disiplin tinggi dan mengajarkan nilai-nilai estetika kepada muridnya.

Sering kita dengar pepatah, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Makna ini mengisyaratkan bahwa guru adalah panutan bagi muridnya. Jadi kapanpun dan dimanapun guru tetaplah panutan bagi murid-muridnya. Artinya sebagai seorang guru, tidak hanya mampu mengajar di kelas , tapi juga mampu mencontohkan akhlak yang baik, termasuk kesederhanaan murid  dalam keseharian. Tanpa kita sadari justru karakter murid akan terbentuk atas apa yang mereka lihat  dari keseharian kita sebagai guru.

Tidak jarang seorang guru nampak sering mempertontonkan kemewahan kepada muridnya, dan ini justru bisa membuat murid keliru memahami atas apa yang mereka lihat. Artinya menampilkan gaya hidup yang berlebihan melebihi standar kehidupan bagi seorang guru dapat berpengaruh tidak baik terhadap perkembangan mental murid.

Disiplin waktu, Ini juga tak kalah pentingnya bagi dedikasi seorang guru. Perlu diingat, guru adalah panutan bagi muridnya, jadi untuk mengajarkan kedisiplinan kepada murid , terlebih dahulu kita sebagai guru harus mampu menjalankan dengan baik kedisiplinan dalam keseharian kita. Kita bisa saja melakukan aktivitas lainnya, tapi tentu tanggung jawab kita sebagai guru adalah yang paling utama. 

Tugas guru bukan hanya membuat murid jadi lebih pintar, tetapi juga bertanggung jawab membuat murid berakhlak mulia. Akhlak itu bisa diajarkan melalui perilaku keseharian kita yang  kita terapkan baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Mari kita renungkan sejenak sejauh apa pengabdian kita terhadap negara terkhusus sejauh mana kebermanfaatan ilmu dan akhlak mulia yang sudah kita tanamkan kepada murid-murid  kita. Apa yang kita ajarkan kepada murid-murid kita dapat berpengaruh terhadap masa depan mereka nantinya. Semoga tulisan ini dapat memotivasi diri agar kita semakin kreatif dan inovatif dalam berproses dan  memantaskan diri dalam meraih  sebuah prestasi atau penghargaan (Satya Lencana) yang semestinya.


Penulis : Ahmad Danial, S.Kom
Guru pada MTsN 1 Polewali Mandar

Editor : Rustan Suddin

Ativador Windows 8, 8.1

+4

2 Komentar

Post Komentar

Gulir ke Atas