Perjalanan Yang Mencerdaskan Oleh : Ilham Sopu
“Assafaru madrasatun kabiratun”, perjalanan itu adalah pembelajaran yang besar. Ungkapan ini sering disampaikan oleh almarhum KH Muchtar Adam, pimpinan pondok pesantren babussalam Bandung. Salah satu metode belajar yang menjadi acuan para ulama atau pencari ilmu dalam menambah wawasan keilmuannya adalah dengan mengadakan perjalanan.
Banyak hal yang menjadi acuan para ulama dalam memaknai perjalanan, dengan memantau fenomena alam, merenungi tentang ciptaan Tuhan, berdialog dengan diri sendiri, berdialog dengan teman seperjalanan, menikmati dan kagum dengan ciptaan Tuhan. Itu ada adalah pembelajaran yang sangat besar seperti ungkapan di atas.
Makna-makna seperti itu yang harus menjadi perenungan ketika dalam melakukan perjalanan, sehingga menjadi pelajaran yang berharga bagi manusia dalam memaknai kehidupan ini, lewat fenomena alam yang telah disiapkan oleh Tuhan untuk kepentingan manusia. Disamping perjalanan dapat memberikan inspirasi pencerahan terhadap manusia sekaligus juga menjadi hiburan dan arena refreshing ketika selesai melaksanakan tugas rutin.
Dalam sejarah kenabian, perjalanan menjadi kegiatan rutin para Nabi, dengan tujuan untuk menyebarkan visi kenabian, disamping juga untuk mendapatkan aspirasi kenabian, atau mematangkan diri pribadi Nabi lewat pelajaran-pelajaran yang disiapkan oleh Tuhan ditempat-tempat tertentu yang dilalui oleh Nabi.
Nabi Isa as, adalah Nabi yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk melakukan perjalanan. Perjalanan Nabi Isa adalah untuk menyebarkan visi kenabian, yakni menjalankan dakwah yang diterima dari Tuhannya.
Al-Masih yang merupakan simbol dari Nabi Isa berasal dari kata masyun yang artinya berjalan, jadi Nabi Isa yang suka melakukan perjalanan, itulah sebabnya Nabi Isa tidak punya istri disebabkan karena terlalu sibuk dalam mengurusi kegiatan-kegiatan dalam penyebaran misi dakwah yang diemban dari Tuhannya.
Banyak juga ulama-ulama besar yang menjomblo seperti Nabi Isa. Para Nabi dan ulama-ulama besar sangat memanfaatkan perjalanan yang dilakukannya sebagai media pembelajaran bagi dirinya. Bagi sebagian orang melakukan perjalanan adalah sumber inspirasi.
Teringat dengan Almarhum KH Muchtar Adam setiap datang di Makassar, beberapa kali saya mengikuti ceramahnya, selalu menyampaikan bahwa setiap keluar negeri, dia selalu menulis buku sebagai hasil perenungannya dalam perjalanan, begitu juga perjalanannya keberbagai daerah, dia jadikan sumber inspirasi dalam berbagai tulisan-tulisannya.
Inilah adalah salah satu bentuk perterjemahan perjalanan dengan menuangkan dalam bentuk karya tulis berupa buku. Disinilah mengasyikkannya perjalanan, banyak hal yang bisa dipetik sebagai obat dalam menjalani kehidupan sekaligus sebagai sumber inspirasi dalam melakoni kehidupan di dunia ini.
Imam Syafi’i salah satu imam madzhab yang paling banyak pengikutnya di dunia, termasuk di Indonesia, ketika melakukan perjalanan dari Irak ke Mesir, juga banyak terinspirasi dalam perjalanannya tersebut, Imam Syafi’i banyak berijtihad ketika berada di Mesir yang berbeda dengan ijtihadnya ketika berada di Irak. Ini adalah buah dalam perjalanan, semakin banyak melakukan perjalanan akan banyak pula inspirasi dalam menghasilkan suatu karya tulis.
Pertemuan para ulama dalam suatu perjalanan itu akan terjadi pertukaran ilmu diantara mereka. Imam Abu Hanifah, dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, “Laulah sanataani lahalaka Nu’man”. Seandainya tidak bersama dengan Ja’far Assadiq selama dua tahun, maka celakalah Nu’man. Panggilan akrab untuk Abu Hanifah adalah Nu’man.
Para Nabi, Ulama sangat memanfaatkan perjalanan mereka untuk menggali misi perjalanannya dalam perspektif keilmuan dan sebagai sumber ketenangan dalam menikmati ciptaan-ciptaan yang terhampar dihadapan mereka. Ini sekaligus juga menjalankan perintah Tuhan dalam Al-Qur’an dalam anjuran untuk “bertebaran di muka bumi”.
Perjalanan di muka bumi ini adalah merupakan dinamisasi kehidupan dalam mencairkan kehidupan stagnan yang melanda kehidupan kemanusiaan. Dan secara fitrah manusia butuh kehidupan yang dinamis, tidak stagnan, dinamisasi dalam kehidupan dalam berbagai aspek, dalam aspek teologi keimanan, bahwa keimanan haruslah ada peningkatan untuk mengarahkan kehidupan yang lebih baik dalam menghadapi sesudah kehidupan di dunia ini.
Perjalanan itu adalah perubahan, itulah salah cara untuk memperbaiki kualitas kehidupan kita dalam berbagai aspeknya. Pemberian makna terhadap suatu perjalanan itu sangat tergantung pada diri yang melakukan perjalanan, apakah akan memanfaatkan momentum yang telah disiapkan oleh Tuhan yaitu hamparan bumi dan alam semesta sebagai media melakukan perubahan dengan menggunakan fasilitas yang disiapkan oleh Tuhan berupa akal dan hati nurani.
(Bumi Pambusuang, 26 Januari 2023


Post Komentar