Mengenal Mandar: Surga Ribuan Budaya
Sepanjang perjalanan, saya hanya tahu melafalkan al-fatihah berkali-kali. “Hati-hati kalau sudah sampai disana, baca ayat kursi dan al-fatihah,” kata ibu di akun messengernya. Dan serupa tapi tak sama, seorang teman mengingatkan “hati-hati nah, masih kuat baca-bacanya di sana.” yang membuat saya tak henti melafal doa. Benar saja, empat hari tinggal di tanah yang indah itu, saya justru dibuat bahagia, betah, sampai tak ingin cepat pulang.
Mandar namanya. Bukan, bukan nama orang—melainkan sebuah kota di provinsi Sulawesi Barat dengan luas kurang lebih 2.000.000 km2 dan 400.000 jumlah penduduk. Kota ini menyimpan beragam tradisi dan budaya yang terus terjaga hingga saat ini. Tanah ini lebih akrab disapa Polman (Polewali Mandar), yang sebelumnya dikenal dengan Polmas (Polewali Mamasa) sebelum kabupaten Mamasa resmi berdiri sendiri.
Berangkat dari kota Makassar, Sulawesi Selatan, perjalanan ditempuh selama kurang lebih tujuh jam lamanya. Namun jangan khawatir, kota ini berada diantara gunung dan laut sehingga rasa lelah selama perjalanan akan terbayar tuntas dengan pemandangan yang indah disepanjang jalannya.
Setelah sampai dan makan malam, kami mendatangi acara Makacaping. Tradisi ini merupakan salah satu cara mengungkap rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Di sebuah panggung kecil, akan ada seorang pemain kacaping (alat musik khas Mandar) yang biasanya sudah berusia lanjut, dan sembari bermain, mereka akan melantunkan doa-doa kepada perempuan-perempuan yang duduk disampingnya.
Para perempuan anggun tersebut menggunakan pakaian adat khas mandar dan duduk melontar senyum ke segala penjuru. Mereka harus tetap duduk sembari kacaping dan lantunan doa dikumandangkan.
Selain menjadi ajang rasa syukur, makacaping juga menjadi tontonan yang paling digemari masyarakat Mandar. Sebab, jikalau seorang lelaki menyukai salah seorang dari perempuan-perempuan tersebut, mereka akan maju dan menaruh uangnya di sebuah nampan tepat didepannya. Selama acara itu berlangsung, saya tak henti mendengar bagaimana hebohnya masyarakat ketika beberapa lelaki dengan percaya dirinya maju dan memberikan sebuah amplop kecil kepada perempuan-perempuan tersebut. Tak hanya orang tua, bahkan anak-anak ramai memberi uang koin dengan bahagia.
Acara tersebut tak kenal halau. Walau sempat gerimis, prosesi makacaping tetap dilanjutkan disebuah rumah sampai doa-doa tersebut selesai dipanjatkan. Dan walau gerimis itu ada, antusias masyarakat pun tak kalah darinya.
–
Malam melarut, pagi menjemput. Tepat pukul sepuluh pagi, sayup-sayup sudah terdengar anak-anak melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Kuda-kuda pun satu persatu mulai datang dan disiapkan sebagaimana mestinya.
Yap! Beberapa saat lagi, tradisi Sayyang Pattu’du akan digelar di kecamatan Pambusuang, salah satu dari beberapa kecamatan di kota Mandar. Sayyang Pattu’du merupakan salah satu tradisi turun-temurun yang sangat dijaga dan sarat makna. Sebab, tradisi ini hanya dapat kita jumpai saat perayaan maulid Rasulullah SAW.
Dalam bahasa mandar, sayyang berarti kuda dan pattu’du’—mattu’du berarti menari. Jadi, Sayyang Pattu’du itu sendiri merupakan acara kuda menari yang ditunggangi oleh anak-anak sebagai persembahan dari orang tua mereka karena telah khatam (tamat) membaca Al-Qur’an. Walau banyak percaya kuda itu menari karena ‘baca-baca’ dan dianggap sebagai suatu yang mistis, sebenarnya mereka sudah dilatih selama bertahun-tahun agar terbiasa ketika mendengarkan bunyi rebana; mereka langsung menggoyangkan kepalanya layaknya menari.’
Bagi anak laki-laki, mereka akan menggunakan baju kokoh yang menjuntai hingga ke dasar kaki, diikuti dengan sorban di kepala dan kacamata hitam bak artis terkenal di masanya. Sedangkan para perempuan, mereka akan dirias sebaik mungkin serta dibalut pattuduq tomaine, yang merupakan baju adat khas Mandar.
Nah, dalam tradisi sayyang pattu’du tersebut, anak perempuan akan didampingi oleh seorang yang mereka pilih sebagai ‘pemanis’ yang akan duduk didepan bersama mereka. Menariknya, perempuan-perempuan yang dipilih ini harus terus tersenyum, sekuat apapun kuda akan menari dan berjingkrak mengayun-ayun kepalanya. Tidak sampai di situ, layaknya tradisi Makacaping, bila seorang laki-laki jatuh hati pada perempuan yang duduk didepan itu, mereka akan melontarkan pantun berisi puji-pujian kepada sang wanita, yang disebut kalinda’da. “Iya, pantun itu berbahasa mandar dan biasanya terdengar banyak macam. Dahulu para lelaki bahkan sering adu pantun demi memikat hati mereka,” tutur Rani, yang merupakan salah satu warga Mandar; tepatnya di kampung Pambusuang, kecamatan Balanipa.
Kami mendatangi beberapa rumah, dan dari banyaknya itu tiap-tiap mereka saling bersiap dan berias untuk sayyang pattu’du. Setelah syukuran kecil-kecilan, kami disuguhi pelbagai macam makanan khas Mandar setiap berkunjung, salah satunya sambusa, gorengan yang dibalut kulit lumpia berisi bihun dan ikan—makanan favorit saya selama disana, harus dicoba guys! Dan entah nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan; terlampau baik orang-orang disana, mereka tak akan mengizinkan kami beranjak dari rumahnya sebelum mencicipi makanan mereka. Saya bahkan sempat diancam bersama teman-teman, “Jangan pulang dulu kalau belum makan, nda ada nanti itu jodohmu,” tutur seorang ibu kala saya mendatangi rumahnya untuk mengambil beberapa gambar.
Lalu, tepat pukul 12 ba’da duhur, gema musik drum, gong, sampai pianika mulai menggema di telinga saya. Iring-iringan rebana mulai terdengar, yang berarti beberapa saat lagi acara sayyang pattu’du akan dimulai. Bahkan sebelum mulai pun, beberapa kuda yang disiapkan ditengah pasar pun sudah mulai menari kala dentuman rebana terdengar. Tak hanya kuda, anak-anak sampai beberapa orang tua pun ikut berjoget bersama penggiring tersebut dalam sukacita.
Beberapa anak mulai keluar dan menunggangi kuda diikuti sanak keluarga maupun tim rebana. Mereka akan berjejer dan diarak sampai jalan raya, dan mengitari satu kecamatan. Dan sebab sayyang pattu’du itu, alur transportasi sempat macet hingga setengah jam. Yang benar saja, acara ini tidak hanya menggiring satu-dua, melainkan lima puluh kuda. Menarik, bukan?
Acara tersebut berlangsung ramai. Warga berbondong-bondong keluar rumah untuk menonton ‘konvoi’ tradisional itu. Beberapa dari mereka juga ada yang mengikuti iringan kuda tersebut, berjoget ria, menjadikan kebahagiaan yang ditebar oleh sayyang pattu’du tidak sebatas anak yang sudah khatam al-qur’an dan keluarga saja, melainkan seluruh insan yang melihatnya, termasuk saya.
Selain menyaksikan sayyang pattu’du, esoknya, tepatnya di desa Balanipa, kami mengunjungi markas para penenun sutera. Di Mandar sendiri, kegiatan menenun dikenal dengan manette’ saya mengunjungi Rosida dan Diana, salah seorang penenun dari beberapa yang tersebar di desa itu. Mereka saling berbagi pekerjaan, dimana Diana memintal benang (sumau’) sedangkan Rosida yang menenun.
Sembari menenun kain merah, Rosida menjelaskan kepada kami pelbagai nama dari alat penenun yang ia gunakan. Dimulai dari talutang (tempat duduk), pamalu’ (papan benang), suru’, panette’, peppe’ malingan, serta hora (pipa untuk menarik benang yang dahulunya menggunakan bambu). “Sejak SD kami sudah diajar untuk menenun, sudah belajar, beda dengan anak-anak sekarang sudah malas turun kebawah untuk membantu,” terang Rosida disela bercerita.
Rosida melanjutkan, banyak motif yang biasanya dipakai untuk tenunan yang dibuat. Dengan panjang 4 meter dan lebar 60 meter, tiap-tiap kain akan ditenun dengan kurun waktu seminggu hingga sebulan lamanya. “biasanya untuk pinggiran pakai motif bunga jendela. Kalau yang banyak peminatnya itu motif bunga lopi dan motif sandeq (perahu khas mandar). Di mandar sendiri paling banyak yang suka motif sandeq,” lanjutnya.
Usai bercerita sembari melihat penenun melakukan rutinitasnya tiap usai melaksanakan pekerjaan rumah, di sore hari kami berkunjung ke Dato’ Beach. Nuansa alam dengan bau khas pantai yang begitu menyengat menyegarkan pikiran kami; seakan-akan menemukan surga yang lain di tanah Mandar.
Menjadi destinasi terakhir sebelum kembali ke rumah, bagi saya Mandar adalah tanah budaya yang terbaik dari segala yang baik.
Terimakasih Mandar! Semoga selalu dicintai dan mencintai!
Artikel ini telah tayang di : https://www.mainmain.id/
Dengan Judul : Mengenal Mandar: Surga Ribuan Budaya
Penulis : Cakra Ajie


Post Komentar