Mendeteksi Kebaikan Dan Keburukan Oleh : Ilham Sopu
Menjelang turunnya Wahyu kepada Muhammad saw, Muhammad banyak melakukan perenungan di gua Hira. Muhammad saw bolak balik ke gua Hira demi untuk menenangkan hati dan fikirannya. Bertahannus atau melakukan perenungan diri adalah salah metode untuk mengetahui lebih dalam tentang hakekat kehidupan ini.
Mengapa shalat tahajjud itu dikerjakan pada tengah malam karena itulah waktu yang sangat baik untuk melakukan perenungan diri. Tuhan sudah mengisyaratkan dalam Al-Qur’an di surah Al Isra : 79 “Pada sebahagian malam lakukanlah shalat tahajjud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”.
Bertahannus atau melakukan perenungan diri adalah cara untuk menggali kedirian kita sebagai manusia. Inilah yang dilakukan oleh Nabi menjelang masa kenabiannya. Uzla yang dilakukan Nabi untuk memisahkan diri dari masyarakat bobrok atau masyarakat jahiliah yang syarat nilai-nilai paganistik dan tidak mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Nabi melakukan uzla atau pengasingan diri untuk menggali nilai-nilai spiritual dalam dirinya. Dan ini sebagai bentuk penghindaran terhadap bentuk-bentuk politeisme yang dianut oleh masyarakat Quraisy pada waktu itu.
Diera modern sekarang ini, dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang semakin menjauhkan kita dari nilai-nilai spiritual, beruzlah sebagaimana yang dilakukan Nabi pada zamannya, mungkin sangat perlu untuk kita lakukan, tapi bukan uzla seperti pada zaman Nabi pergi ke goa-goa di atas gunung untuk berkontemplasi.
Dalam konteks hari ini beruzlah itu lebih berat jika dibandingkan dengan era kenabian. Banyak tantangan-tantangan yang dapat mengalihkan perhatian ketika akan melakukan uzlah. Dan itu tergantung juga dengan kualitas manusianya. Uzlah diera kontemporer saat ini, adalah beruzlah yang dikelilingi berbagai tarikan kehidupan duniawi yang serba materialistis.
Namun demikian manusia adalah makhluk yang bisa memanfaatkan potensi dirinya untuk melakukan uzlah dimanapun dia berada. Melakukan pengasingan diri ditengah keramaian adalah dengan melakukan kontemplasi atau perenungan diri tanpa terpengaruh dengan apapun yang ada disekitar.
Dalam bahasa agama bahwa dalam diri manusia ada fitrah atau keyakinan yang melekat dalam diri setiap orang. Keyakinan itu adalah fitrah yang ada dalam diri setiap orang. Fitrah ini akan selalu muncul dalam diri setiap orang. Bahkan orang yang sekufur Fir’aun yang memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan itu diakhir hidupnya mengakui bahwa ada Tuhan yang lebih besar dari dia, itu adalah bagian fitrahnya sebagai manusia.
Manusia sebagai makhluk yang bisa berhubungan dengan Tuhan dengan memanfaatkan potensi fitrahnya, sebagai alat untuk melakukan perenungan diri, supaya kebenaran-kebenaran dapat muncul dalam dirinya sebagai media dalam melakukan pendekatan kepada Tuhan.
Oleh sebab itu, dalam salah satu bukunya Cak Nur panggilan akrab Prof Nurcholish Madjid, mencoba memberikan interpretasi atau karakteristik tentang sesuatu yang bisa disebut sebagai suatu kebenaran atau kebaikan.
Salah satunya adalah hati nurani, berasal dari kata nuraniy-un artinya bersifat cahaya. Dalam bahasa Cak Nur bahwa hati nurani itu adalah modal primordial atau modal azali yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Ada hadis yang bunyinya bahwa hati nurani dapat mendeteksi suatu kebenaran, begitupun juga dengan dosa. Pernah Rasul dalam suatu kesempatan memberikan kesempatan kepada sahabat untuk meminta fatwa pada hati nuraninya. “Mintalah fatwa pada dirimu, mintalah fatwa pada hatimu, wahai Wabishah(bin Ma’bad al-aswadi), (Nabi mengulanginya) tiga kali. Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa tenang dan membuat hati tenang. Dosa adalah sesuatu yang (terasa) tidak karuan dalam jiwa dan (terasa)bimbang dalam dada” (HR.Ahmad).
Dengan bunyi hadis di atas betapa manusia adalah makhluk yang sangat luar biasa, karena lewat hati nuraninya bisa mendeteksi suatu kebaikan begitupun dengan keburukan atau dosa. Manusia memiliki kemampuan untuk melakukan transendensi diri. Manusia bisa berdialog dengan dirinya sendiri lewat fasilitas hati nurani. Memang dalam konsepsi Al-Qur’an bahwa Tuhan itu dekat sekali dengan kita. Bahkan tak ada yang lebih dekat dengan kita yang melebihi kedekatan dengan teman,orang tua, anak, suami ataupun istri melainkan hanya Tuhan yang Maha Hadir. Ini sangat berbeda dengan binatang yang tidak bisa melakukan kontemplasi dengan dirinya atau berkonsultasi dengan nuraninya, binatang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan transendensi diri. Ia tiidak bisa mengambil jarak ataupun keluar dari dirinya lalu dengan kesadarannya melihat dirinya sebagai obyek.
Hati nurani itu alat untuk mendeteksi suatu kebaikan begitupun dengan keburukan atau dosa. Namun demikian tidak semudah kita dapat berkonsultasi dengan hati nurani, karena kadang juga ada tembok penghalang untuk bisa berkonsultasi dengan hati nurani. Tembok atau tirai yang membatasi kita dengan hati nurani sehingga kita terhalangi untuk berhubungan atau connect dengan hati nurani kita. Ini sama saja dengan eksistensi iman, dalam pandangan hadis, bahwa iman itu fluktuatif. Iman itu bisa menguat dan bisa melemah. Iman itu menguat ketika kita banyak melakukan ketaatan-ketaatan kepada Tuhan dan iman melemah atau turun ketika kita banyak melakukan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Tuhan.
Disitulah kelebihan-kelebihan yang dimiliki manusia. Karena mereka mampu mendeteksi suatu kebaikan atau keburukan lewat nuarani atau naraniyyun, suatu fasilitas yang disuntik oleh Tuhan kepada manusia. Oleh sebab itu eksistensi manusia ada pada hati nuraninya, bila mana manusia memanfaatkan modal hati nurani yang dimilikinya niscaya akan tergolong menjadi manusia-manusia yang beruntung. Itulah salah satu yang menjadi ukuran kebaikan yang ditawarkan oleh agama.
Bumi Pambusuang, 18 Nopember


Post Komentar