Keterputusan Intelektual Dari Ulama Di Tanah Mandar Oleh : Ilham Sopu

Menarik kegiatan yang digelar oleh Dinas Pariwisata Sulbar yaitu talk show wali fest, suatu kegiatan yang punya ketersambungan dengan cita-cita pendirian Sulbar yaitu sebagai provinsi yang mala’bi. Serangkain kegiatan festival kewalian seperti tablig akbar, ziarah ke makam para ulama, dan diskusi tentang kewalian di tanah mandar yang menghadirkan pembicara yang punya kapasitas keilmuan tentang sejarah masuknya lslam ke tanah mandar.

Berbagai tokoh atau ulama yang menjadi fokus pembicaraan dalam kegiatan talk show yang diramu dalam bentuk diskusi diantaranya yang paling banyak menjadi titik perhatian adalah Imam Lapeo, dan ulama-ulama lainnya baik sebelum masa Imam lapeo maupun maupun zaman sesudahnya.

Kegiatan keilmuan yang diprakarsai oleh dinas pariwisata sulbar adalah kegiatan yang punya nilai kecerdasan, baik kecerdasan yang berkaitan dengan pemahaman tentang sejarah masuknya islam ke tanah mandar, maupun kecerdasan yang berkaitan dengan nilai-nilai spritual atau kewalian yang ditinggalkan oleh para ulama-ulama terdahulu.

Dalam memandang eksistensi para wali atau ulama,kita harus memandangnya secara holistik atau secara paripurna. Masih banyak kalangan yang melihat para wali atau ulama di Mandar pada masa dulu dengan pandangan yang parsial. Mereka melihat satu sisi saja yaitu kelebihan yang dimiliki oleh para ulama atau wali yaitu segi kekeramatan tanpa melihat sisi-sisi lain yang seharushnya lebih ditonjolkan, misalnya sisi pemahaman yang mendalam terhadap ajaran agama dan akhlak mereka, atau dengan kata lain sisi kecerdasan intelektual dan kecerdasan spritual.

Kedua sisi inilah yang harus menjadi perhatian kita dalam memandang ulama-ulama dulu. Karena ulama atau wali itu adalah warasatul anbiya, pewaris para Nabi. Sejarah kenabian adalah sejarah yang lebih mengedepankan keilmuan dan akhlak. Nabi adalah orang yang dekat dengan Tuhan, Tuhan mengangkat derajat para Nabi kerena keilmuan dan keimanan mereka. Begitupun dengan para ulama sebagai pewaris para Nabi.

Para ulama terdahulu sangat familier sisi keilmuan dan akhlak mereka. Keberhasilan para ulama terdahulu dalam menyampaikan misi dakwah yang diembannya karena keilmuannya sangat mendalam sehingga mereka mengkomunikasikan bahasa dakwah dengan mudah ke masyarakat.

Begitupun di daerah mandar, betapa sangat berjasanya para ulama atau wali dalam menyebarkan misi keagamaan. Ulama-ulama mandar sangat suka berdiaspora keberbagai daerah atau wilayah disamping untuk menuntut ilmu juga untuk menyebarkan misi keagamaan. Ada ungkapan yang menjadi pegangan ulama-ulama dulu yaitu “Assafaru madrasatun kabiratun”, bahwa perjalanan atau berdiaspora itu guru yang sangat besar.

Hampir semua ulama-ulama mandar memanfaatkan perjalanan keberbagai daerah atau wilayah untuk menuntut ilmu. Imam Lapeo adalah seorang banyak melakukan diaspora kebanyak wilayah bahkan sampai ke daerah Jawa untuk memperdalam keilmuannya.

Momentum pemerintah Sulbar untuk mengadakan “talk show wali fest”, yang diinisiasi oleh Dinas pariwisata untuk fokus dalam mengangkat misi para ulama terdahulu sebagai rujukan pembelajaran untuk hari ini adalah salah satu bentuk dari kelanjutan cita-cita Sulbar dalam menciptakan wilayah yang mala’bi.

Memperkenalkan kembali perjuangan para ulama terdahulu dengan menggagas berbagai kegiatan dalam bentuk pencerahan intelektual seperti tabligh akbar, pementasan budaya dan yang paling penting adalah kegiatan diskusi dengan mengkaji peran wali atau ulama masa dulu dalam menyebarkan misi keintelektualan dan penyebaran nilai-nilai spritual di tanah mandar. Pengadopsian peran para wali dari aspek keintelektualan dan spritual itulah yang menjadi dorongan utama dalam pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi hari ini.

Namun demikian kehebatan ulama-ulama terdahulu dalam penyebaran misi keilmuan dan nilai-nilai spiritual itu tidak disertai dengan peninggalan literasi dari mereka. Mereka sangat minim meninggalkan karya-karya tulis sebagai bentuk pewarisan keintelektualan kepada generasi-generasi berikutnya.

Kehebatan ulama-ulama kita, itu tidak disertai legasi dalam bentuk tulisan sebagai bentuk persambungan intelektual untuk generasi ke depan. Ada semacam keterputusan intelektual antara generasi terdahulu dengan generasi hari ini. Kita hanya dapat menerima peninggalan para ulama-ulama terdahulu lebih banyak dari cerita-cerita yang bersambung dari generasi ke generasi.

Karya-karya intelektual tentang kewalian dan keulamaan di tanah mandar itu sangat minim, sehingga akses untuk mempelajari sejarah tentang peran para ulama dan wali di tanah mandar tidak bisa akses secara sempurna, membaca pemikiran mereka kita hanya mendapatkan dari berbagai informasi yang parsial. Itu sangat berbeda dengan para ulama dari tanah minang dan Jawa, mereka punya legasi atau peninggalan intelektual yang begitu banyak.

Buya Hamka seorang ulama dari tanah minang, sangat mudah kita mengakses secara keilmuan dan sepak terjangnya dalam memperjuangkan dan mendakwahkan pilar-pilar kebenaran karena dia meninggalkan sangat banyak aset intelektual berupa karya tulis yang sangat banyak.

Dengan minimnya akses intelektual yang ditinggalkan oleh para ulama-ulama terdahulu yang ada di Sulbar, lewat forum-forum diskusi seperti yang diinisiasi oleh pemerintah lewat dinas pariwisata dan kelompok-kelompok intelektual untuk memperbanyak kegiatan-kegiatan diskusi dan mendorong kepada ulama atau intelektual yang ada di Sulbar untuk mendawamkan kegiatan menulis khususnya yang terkait peran ulama atau kewalian sebagai aset atau rujukan moral dalam menata Sulbar atau tanah mandar dalam menggapai Kemala’bian.

(Bumi Pambusuang, 27 Nopember 2022)

0

Post Komentar

Gulir ke Atas