Arah Mesjid Oleh : Burhanuddin Hamal ( Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kec.Tinambung )
Banyak makna positif yang termuat dalam kata Masjid. Diantaranya makna kesalehan, kebersamaan, kemuliaan dan istiqamah di jalan kebenaran. Sebagai yang juga disebut “rumah Tuhan” maka peran dan fungsi Masjid sesungguhnya merupakan wadah efektif yang sentralitasnya memungkinkan manusia menemukan kedamaian hidup, ketegaran diri serta harapan kemaslahatan bersama.
Ketika banyak Masjid yang arah fisiknya benar menghadap Kiblat, maka semoga tak banyak pula oknum pelaku-pelaku shalat yang kenyataan sikap dan perilakunya bertentangan dengan makna-makna “sujudnya” kepada Tuhan.
Terkait ini, lirik syair Kemandaran pun menyindir “allo wongi Puang dirappe, sae tomi disenga’…kasi’na lino towandi mattarra’i paelo’ta…balalapai dita a’dupanna turalloa situru’ rupa gau’ iyya sisarung nyawa paccinna masigi”
(Siang malam nama Tuhan kita sebut, kesadaran akan otoritas-Nya pun telah lama kita yakini. Namun sayang, ternyata birahi Duniawi juga yang mendominasi ruang selera. Masih terlihat langka sosok-sosok diri yang mampu menghadirkan nilai-nilai Masjid lewat sentuhan tutur dan tatanan perilaku).
Boleh jadi umumnya kita merasa sudah beragama ketika tak lagi pernah melewatkan rutinitas lima waktu di Masjid. Akan tetapi, kenyataan diri di luar Masjid seringkali justru mengebiri nilai-nilai keta’atan ritualitas itu sendiri. Mungkinkah ini yang disebut “sambayang tammalla’bang di kalepunna alawe” (ritualitas yang belum sepenuhnya menyatu dengan kenyataan diri) ?
Betapa mungkinnya kita terlihat rajin dan mampu memaksimalkan sujud-sujud formilnya di dalam Masjid, tetapi tidakkah menjadi “bumerang” saat ragam aktivitas sosial tak ikut memberi warna dan nilai-nilai diri yang bersinergi (muatan QS. Al-Ankabut: 45) ?.
Karena itu, andai diriku belum bisa merdeka dari kesenangan menipu demi kepentingan sesaat dan semu, menghianati kepercayaan, arogan dalam bersikap, mengambil yang bukan hak serta ragam kejahatan sosial lainnya masih menjadi selubung realitasku, maka seperti apa sesungguhnya orientasi makna dari sujud-sujud persembahanku ?
Tidakkah mungkin diriku telah melakukan sembahyang dimana arah Masjidnya benar menghadap Kiblat namun filosofi kubahnya justru terbalik “membelakangi Tuhan” ?…..
Ushikum wanafsi bitaqwallah, Wallahu a’lam bisshawab


Post Komentar